Home > General Instrumentation > Preventive Maintenance

Preventive Maintenance


Kalau kita memiliki sebuah kendaraan bermotor, sepeda motor misalnya, saat pembelian selalu disertai buku perawatan berkala dengan basis waktu (bulanan, tiga bulanan dst) atau berbasis jarak tempuh (500km, 1000km, 3000km, dst). Buku tersebut merupakan data otentik dari perawata berkala yang dilakukan.

Lalu apa pentingnya perawatan berkala (preventive maintenance [PM])? Mengapa kendaraan tidak rusak dan masih berjalan dengan baik koq diservis (servis, pinjam istilah masyarakat umum untuk perawatan, baik perawatan rutin maupun perawatan perbaikan)?

Fungsi dari PM adalah untuk memastikan segala sesuatunya seperti apa yang seharusnya. Jika ada kelaian akan segera terdeteksi sejak dini. Sehingga kerusakan parah pada kendaraan tidak terjadi, karena jika masalah itu timbul akan terdeteksi sejak masalah itu masih berupa embrio-nya masalah.

Begitupun dengan peralatan instrumentasi. PM perlu dilakukan agar instrument selalu dalam keadaan prima dan bisa berfungsi sebagai mana mestinya. Mengingat peran instrument sangat esensial dalam sebuha plant, maka perlu dilakukan penyusunan strategi dalam melakukan PM.

PM yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah visual inspection, yang meliputi inspeksi keadaan fisik dari instrument seperti karat, koneksi tubing, koneksi grounding, mounting, dan anomali fisik lainnya.

Setingkat di atasnya adalah functional test, pada tahap ini, fungsi dari instrument diuji dengan media yang semirip mungkin dengan prosesnya. Misalnya sebuah pressure transmitter dengan input 0-100psi dan outout 4-20mA, akan disimulasi dengan sumber tekanan (biasanya dari handpump/calibrator). Secara praktis, biasanya dilakukan di 5 titik pengujian yaitu 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%, baik dari 0% menuju 100% (increasing) maupun dari 100% menuju 0% (decreasing). Dari contoh ini, transmitter di-inject dengan tekanan 0psi, ouput haru 4mA, 25psi = 8mA, 50psi = 12mA, 75psi = 16mA dan 100psi = 20mA.

Dari hasil functional test tesebut bisa ditentukan apakah instrument masih memenuhi spesifikasinya atau tidak.

Kalau instrument tersebut memiliki kemampuan HART, dan jika ada fasilitas untuk diagnostic, maka hal ini pun sering dilakukan untuk memverifikasi apakah instrument tersebut masih “layak” secara software atau tidak.

Apabila ada kejanggalan atau ada kerusakan, maka diajukanlah notifikasi untuk dilakukan CM (corrective maintenance).

About these ads
  1. erwin
    May 16, 2011 at 09:17

    nice info…thanks, keep up for more instruments maintenance..

    • TeknisiInstrument
      May 17, 2011 at 06:36

      Pak erwin,

      Terima kasih.

      Salam,
      TeknisiInstrument.

  1. No trackbacks yet.

Silakan tulis komentar Anda... Terima kasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 443 other followers

%d bloggers like this: