Home > Calibration, Control System, Level Measurement, Measurement, Transmitter, Uncategorized > Dry Leg dan Wet Leg pada Level Transmitter

Dry Leg dan Wet Leg pada Level Transmitter


Dry Leg level transmitter

Dry Leg level transmitter

PU = tekanan udara

PL = tekanan di sisi L transmitter

PH = tekanan di sisi H transmitter

LT = level transmitter

PCV = pressure control valve (pressure regulator)

Gambar  di atas merupakan sebuah tangki bertekanan yang berfungsi untuk menekan air keluar dari tangki tersebut. Tekanan dimaksud berasal dari tekanan udara luar yang jaga oleh dua buah regulator, PCV1 diset pada 90 PSIG dan PCV2 pada 100 PSIG, jika tekanan di dalam tangki turun di bawah 90 PSIG, maka PCV1 akan membuka secara proporsional memberikan tambahan udara, jika tekanan di dalam tangki naik melebihi 100 PSIG, maka PCV2 akan membuka secara proporsional, membuang kelebihan tekanan ke atmosfer. Konfigurasi ini biasana dipakai pada air utility (air bahasa Indonesia, bukan air yang berarti udara), misalnya untuk keperluan air yang demand-nya intermittent atau tidak konstan.

Air masuk berasal dari sebuah pompa. Mengapa tidak langsung saja air dari pompa disalurkan ke utility? Hal ini disebabkan karenan pemakaian air yang tidak konstan, yang terkadang melebihi kapasitas delivery pompa. Mengapa tidak kapasitas pompanya saja yang diperbesar? Biasa…. hal ini karena pertimbangan biaya. Semakin besar kapasitas pompa, semakin mahal biayanya.

Pada posting kali ini tidak sedang membahas mengenai pompa dan air utility. Yang akan disoroti pada posting kali ini adalah pemasangan level transmitter untuk mengetahui ketinggian air di dalam tangki tersebut. LT (Level Transmitter) yang dipakai untuk mengukur ketinggian air di dalam tangki yang digunakan adalah DP transmitter. Bagaimana DP bisa mengukur level, bisa dilihat di posting ini, atau di posting ini.

Mengapa sisi low dari LT disambung ke tangki bagian atas? Hal ini karena untuk meng-equalize tekanan udara di sisi H dan L dari transmitter, sehingga yang terukur oleh LT adalah tekanan hidrostatik dari air yang berbanding lurus dengan ketinggian air di dalam tangki.

Pada keadaan ketinggian air di dalam tangki nol, atau ketinggian air menyentuh titik pengukuran sisi H-nya atau dengan kata lain tangki realtif sedang kosong, maka transmitter tidak mendeteksi adanya tekanan hidrostatik, atau (dp= PH-PL = 95+0 – 95 = 0). Lihat posting ini, atau di posting ini untuk cara hitungan dp (differential pressure) pada pengukuran level dengan prinsip dp.

Penjelasan di atas menerangkan konfigurasi transmitter dengan metode dry-leg. Mengapa disebut dry leg? Karena sensing line transmitter dibiarkan kering. (mungkin sensing line diistilahkan dengan leg, kaki)

Bagaimana jika gas yang berada di sisi atas dari tangki tersebut bisa berkondensasi pada temperature kerjanya? Misalnya kondensat dari hasil separasi minyak-condensate-gas?

Bisa ditebak, gas yang berkondensasi akan masuk ke dalam sensing line sisi low, dan sudah barang tentu akan mempengaruhi keakuratan pengukuran, karena SG (specific gravity) kondensate akan memberikan kontribusi tekanan hidrostatik pada sisi L.

Wet Leg Level Transmitter

Wet Leg Level Transmitter

Untuk menanggulangi masalah ini, maka diterapkan metoda wet leg, yaitu dengan cara mengisi kolom sensing line low side dengan liquid yang diketahui SG-nya. Dalam contoh ini misalnya air, yang memiliki SG=1.

Ada sedikit perbedaan dalam memperlakukan dp transmitter yang diimplementasikan pada pengukuruan level dengan wet leg. Misalnya, ketinggian kolom sensing line low side pada contoh di atas adalah 100 inci, sehingga menghasilkan tekanan hidrostatik 100inH2O (lihat posting ini, atau di posting ini untuk prinsip menghitungnya). Sehingga, saat tangki kosong atau level kondensat menyentuk titik sensing high side dari LT, maka dp transmitter akan mengukur tekanan dp=PH-PL = 0-100 = -100 inH2O. Nah saat itulah dp transmitter di trim zero, jadi zero measurement-nya memiliki tekanan nyata sebesar minus 100inH2O. dan saat ditrim zero pada keadaan tersebut, transmitter akan mengirim sinyal 0% (4mA misalnya).

Perhitungan jelasnya bisa dikembangkan sendiri dengan mereferensi ke posting sebelumnya (di posting ini, atau di posting ini).

Selain untuk menghindari kesalahan pengukuran karenan kondensasi gas, wet leg juga bisa berguna saat fluida yang diukur bersifat korsif.

Pada wet leg, nilai dp aktual yang terukur selalu negatif.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan pengalaman, hanya bertujuan untuk sharing bagi mereka yang baru mengenal dunia instrumentasi, kepada para master dan insinyur, mohon koreksi atas segala kesalahan…

About these ads
  1. yopi
    April 15, 2010 at 16:22

    hatur tengkyu pencerahanya kang,

    sekarang saya mau nanya tentang flow measurmet.baik untuk liquid (oil) atau gas.
    mohon pencerahannya ya kang.

    regard,

    yopi km29

    • teknisiinstrument
      April 17, 2010 at 06:07

      Sami2.
      Nanya apanya ya..?
      liquid flow measurement itu luas. Mungkin bisa dipersempit bahan diskusinya?

      Salam,
      TeknisiInstrument

      • yopi
        April 29, 2010 at 22:32

        mav kang baru nongol lagi,
        maksud pertanyaan saya flow calculation dari sebuah orifice plate dari oil line dan penentuan range dp transmitter nya supaya pembacaan di flowcom nya tidak over range.

        kalo perbedaan AGA 3 dan AGA 8 untuk perhitungan gas apa y kang?

        mohon pencerahannya ya kang,,

        • teknisiinstrument
          May 27, 2010 at 09:02

          Maaf nich, responnya telat, baru sempet ngurus lagi blog hehehe.

          Setahu sayaUntuk menentukan kapasitas atau daya ukur dari sebuah orifice yang dipakai sebagai sensing element pada sebuah flow meter, maka ada beberpa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah:
          – bore diameter
          – pipe diameter
          – material dari orifice itu sendiri
          – flowing temperature,
          – flowing pressure.
          – dll

          Untuk orifice sizing, bisa pake software, misalnya InstruCalc, atau ada versi online yang gratis di http://www.flowmeterdirectory.com/flowmeter_orifice_calc.html

          AGA 3 adalah kalkulasi dari AGA (asosiasi gas amerika) untuk menghitung flow dengan menggunakan orifice sebagai sensing element. AGA 3 memerlukan parameter delta P dari orifice, ukuran orifice, flowing press dan temp, dll.

          AGA 8 adalah kalkulasi dari AGA untuk menentukan nilai kompresibilitas dari gas, parameter yang diperlukan oleh AGA 8 adalah dari gas chromatograph (komposisi gas), flowing pressure dan temperature.

          Output dari AGA 8 biasanya dipakai sebagai salah satu parameter pada AGA3 (orifice) AGA7 (turbine meter), AGA9 (ultrasonic)

          Mohon maaf dan maklum kalau salah.
          TeknisiInstrument

  2. yopi
    April 15, 2010 at 16:37

    mau naya lg kang,,,
    mav nanya mulu,
    hehe,,,

    mau tau tentang masalah turbine meter, totallizer dan cara menentukan k-faktor nya.

    share ya kang,,

    regard,

    yopi km29

  3. che pin othman
    June 8, 2010 at 15:31

    How to calibrate wet leg level transmitter?

    • teknisiinstrument
      June 9, 2010 at 19:01

      Personally, I have not performed such this calibration, because in my plant where I work, all the dp cell level transmitters use remote seal with special liquid on either both sides or only at the low side capillary tube for the level measurement. But I think the principle remains the same.

      Here is my thought:
      Assume the following example for easier calculation:
      – Low pressure side leg filled with the water (sg=1)
      – The liquid being measured is also water (sg=1), again, for example only..
      – High pressure side is directly mounted to the process.
      – Calibration takes place at site.
      – Transmitter’s input range is 80 inH2O
      – Wet leg height is 100″ (wet leg hydrostatic pressure = 100″H2O)

      The calibration process would be:
      – Equalize the high and low pressure side by open equalizing valve.
      – Close process connection valve
      – Close equalizing valve.
      – Vent both side to the atmosphere.
      – Flush the residual liquid at the high pressure side if any.
      – Ensure the low pressure side tubing is fully filled with the liquid filler (water for this example) at the normal level.
      – Connect hart comm.
      – The hart comm should read minus dp since the low pressure side is higher than low pressure side (0-100 in H2O = minus 100 inH2O), if not, perform sensor zero trim, the dp measured by transmitter should be minus 100inH2O
      – Inject pressure at the high pressure side at 80inH2O. The transmitter should read minus 20 inH2O, if not, perform sensor high trim.
      – simulate the the pressure as follow:
      ————————————————————–
      Input (inH2O) __ dP reading ______ output (mA)
      ————————————————————–
      0 ____________ -100 ____________ 4
      20 ____________ -80 ____________ 8
      40 ____________ -60 ____________ 12
      60 ____________ -40 ____________ 16
      80 ____________ -20 ____________ 20
      ————————————————————–
      – Perform calibration if reading is out of tolerance.
      – Put the transmitter back in service.

      Mathematically, You could inject pressure from the low side from 100 in H2O down to 20 inH2O to simulate input range from 0-100% (0-80 inH2O). But I would prefer to use my first method above rather than inject the transmitter from low side. The reason is, with my first method, it would simulate the real condition as the transmitter in service.

      That is my thought.
      Correct me if I’m wrong.

      Regards,
      TeknisiInstrument

  4. che pin othman
    June 11, 2010 at 15:16

    Baik bangat pencerahannya. Tima kasih banyak ya kang mas. Semoga terusan berbloging yg berfaedah untuk rumpun nusantara.

    • teknisiinstrument
      June 12, 2010 at 06:52

      Terima kasih Pak Cik, Saya senang jika tulisan saya berfaedah.
      Amiin.

      Regards,
      TeknisiInstrument

  5. yopi m
    June 26, 2010 at 08:50

    thank ya kang share nya.

    mau minta share lg dong kang,,
    klo gas turbine tuh gmn sih system kerjanya?

    thanx b4.

    hamba tak berilmu,

    yopi km29

    • teknisiinstrument
      July 7, 2010 at 06:24

      Sama-sama Kang Yopi, Wah.. kalo gas turbine kayaknya keluar dari topik blog ini. Tapi Insya Allah nanti kita coba siapkan deh.
      Makasih udah mampir di blog sederhana ini.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  6. che pin othman
    July 10, 2010 at 18:28

    Kang tahu engak perihal Vortex flow meter. Mengapa ia lebih baik dari Orifice flow meter. Apa masaalah yang sering dikaitkan dengan Vortex flow meter.
    Yah jika boleh dikongsi baik bener. Jika engak tahu pun engak apa-apa. Gue sekadar ingin tahu.
    Tima kasih ya kang…Semuga kang sentiasa sihat dan murah rejeki

    • teknisiinstrument
      August 6, 2010 at 19:24

      Wah.. mohon maaf, saya tidak punya pengalaman praktis mengenai vortex flowmeter. Tapi akan saya coba cari penjelasannya.
      Jika sudah dapat, akan coba diposting.

      Terima kasih atas doanya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  7. abu jundi
    July 30, 2010 at 10:55

    salam kenal kang…

    saya mau tanya kang,seputar rotameter…
    apakah bisa kita mengubah (menambah/mengurangi) range flowrate terukur dari range sebelumnya dengan menambah/mengurangi luas pada bagian terapung dari rotameter,jika bisa tolong jelaskan kang ditelnya seperti apa,hatur nuwun

    • teknisiinstrument
      August 6, 2010 at 19:37

      Salam kenal juga Pak Abu Jundi,
      Terima kasih sudah mampir di blog sederhana ini.
      Setahu saya, rota meter itu factory calibrated.
      Rota meter biasanya memiliki tabung kaca dengan skala (ada juga yang memakai dial (jarum) dengan menggunakan medan magnet).

      Jadi untuk mengubah rentang ukur dari rotameter, diperlukan kalibrasi ulang (dengan fasilitask test bench yang memadai, setelah mengubah luas penampang bagian terapung, seperti yang Pak Abu Jundi katakan.

      Tapi terlepas dari urusan teknis, yakni berfungsi atau tidak, praktek semacam ini pada industri tertentu tidak bisa diterapkan, karena setiap peralatan instrumentasi yang terpasang di lapangan harus memiliki sertifikasi pabrik (manufacturer). Jadi, karena rotameter itu adalah factory-calibrated, maka secara otomatis, sertifikat manufaturer untuk rotameter bersankutan menjadi batal.

      Demikian pendapat saya, mohon maaf jika kurang pas.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  8. huda
    October 25, 2010 at 02:43

    Sangat bermanfaat sekali. Kang, saya mau nanya. Wet Leg Level Transmitter itu apa air pengisinya tidak jatuh ke vessel nya? Karena ada tekanan, getaran, dll kan airnya bisa tumpah ke dalam vessel, dan akhirnya jumlah air yg berada di penampung liquid pengisi akan berkurang. Tlong penjelasannya. Kalo boleh mohon untuk ditampulkan gambar real nya. Terimakasih.

    • TeknisiInstrument
      December 18, 2010 at 20:58

      Pak Huda,
      Kalau konstruksinya persis seperti yang saya gambarkan di atas, memang benar, besar kemungkinan liquid pengisi untuk wet leg tersebut akan mungkin bisa tumpah masuk ke dalam vessel. Selain karena getaran, dan tekanan, liquid pengisi wet leg juga akan sangat mungkin habis karena menguap, hal ini disebabkan karena kondisi proses (tekanan dan temperatur) yang mengakibatakn liquid pengisi mencapai titik uapnya.

      Ada juga yang tidak menggunakan chamber, tapi tubing sensing line-nya digulung pada titik tertingginya, kemudian diisi dengan liquid pengisi, digulungnya tubing ini untuk menjebak liquid pengisi agar tetap berada di dalam tubing. Tapi tetap saja harus sering diperiksa, karena karena kondisi tekanan dan temperatur proses (dan lingkungan sekitar) akan memungkinkan liquid pengisi menguap.

      Terus terang saja, saya belum punya pengalaman mengimplementasikan wet leg transmitter dengan menggunakan chamber, karena di tempat saya bekerja, sekarang ini menggunakan transmitter dengan remote seal.

      Pembuat (manufacturer) transmitter, sekarang ini mengimplementasikan remote seal untuk menghindari habisnya liquid pengisi, dengan menggunakan tabung kapiler dan diaphragm.

      Semoga membantu. Mohon maaf jika jawabannya kurang pas.

      Salam,
      TeknisiInstrument.

  9. haqqi
    December 15, 2010 at 20:13

    dry kok kering???? bukannya dry tu basah???

    yang kering tu bukannya wet leg yah??

    • TeknisiInstrument
      December 18, 2010 at 20:45

      Pak Haqqi, salam kenal.
      Terima kasih telah mampir di blog sederhana ini.
      Menurut kamus yang pernah saya baca, dry itu padanan kata dalam Bahasa Indonesia-nya adalah kering, sedangkan wet itu padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya adalah basah.
      Mungkin Pak Haqqi ada referensi lain? Boleh dong di-share.

      salam,
      TeknisiInstrument

  10. sarana
    January 25, 2011 at 21:28

    Pak salam kenal, kami ingin mengukur volume molasses secara akurat (dari centrifugal ke final tank melalui pipa) alat apa yang paling tepat? apakah loadcell dan bin (dgn segala kerumitan kemungkinan bocor di seat valve atau solenoid nya missfire atau coriolis flow meter? kalau menggunakan coriolis flow meter apabila terjadi foaming apa kemungkinan yang terjadi? apakah tetap akurat pembacaannya? apa saran way out nya? Terimakasih sebelumnya

  11. mimi
    April 8, 2011 at 13:02

    mw nanya..cara kelibrasi..level..transmitter..yg benar..gmn..yg urut.?

  12. herman
    June 10, 2011 at 13:58

    Dear Pak..
    Misalnya range dari suatu DP level transmitter adalah : -99 ~ -45 inH20 dgn connection nozzle paling bawah di connect kan ke high side tx, dan nozzle paling atas di connect kan ke low side transmitter.
    Pertanyaan saya, klo connection tubing yg ke transmitter di balik ( yg high ke low, dan yg low ke high) , apa range di tranmitter di ganti ? ( apa menjadi 99 ~ 45 in H2O ) ?

    Mohon pencerahannya..

  13. TeknisiInstrument
    June 10, 2011 at 18:08

    Dear Pak Herman,
    Terima kasih atas kunjunganya dan salam kenal.

    Maaf sebelumnya, saya belum pernah melakukan hal itu. terus apakah angka itu adalah range atau nilau LRV dan URV? Tapi saya akan coba menganalisa.

    Dalam keadaan instalasi umum (sisi high dari transmiter dihubungkan dengan tapping point bawah pada tangki dan sisi low dari transmiter dihubungkan dengan tapping point atas pada tangki), sinyal keluaran dari transmitter akan berbanding lurus dengan level, dengan kata lain, jika level naik, maka dp yang terbaca oleh transmitter akan naik, dan output dari transmitter akan naik pula.

    Jika kita menukarkan sisi input transmitter, maka logika di atas akan terbalik, jika level naik, maka dp akan semakin turun, dan output transmitter akan semakin turun pula. Besarnya penurunan tersebut akan dibatasi oleh transmitter sebagai saturated signal (biasanya pada 3.7mA).

    Dan jika kita mengkalibrasi dp trasnmitter dengan sensing line ditukar, biasanya transmitter (dengan HART enabled) akan menolak untuk dikalibrasi.

    Andaikan transmitter mau diberi URV yang lebih kecil dari LRVnya, mari kita analisa:
    Menurut angka yang dimisalkan oleh Pak Herma:
    – LRV=99
    – URV=45,
    maka span kita adalah (45-99)= -45 (angka yang tidak biasa, karena span minus)
    kita memiliki tabel hubungan sebagi berikut:

    jika level=0%, maka dp=45-99=-45, maka output=4mA
    jika level=25%, maka dp=(25%*(-45))+45)=-56.25, output=((25%*16)-4)=0mA

    Jika perhitungan di atas diteruskan, maka output transmitter akan semakin kecil (bahkan minus), secara matematis memang bisa, tapi secara prakteknya, biasnya di-clamp di saturated value, biasnya 3,7 atau 3,8mA).

    Menurut menurut saya, hal berikut ini harus selalu dilakukan pada dp Tx untuk level transmitter:
    – sisi high dari transmiter dihubungkan dengan tapping point bawah pada tangki.
    – sisi low dari transmiter dihubungkan dengan tapping point atas pada tangki.

    Mohon maaf jika kurang membantu.

    Salam,
    TeknisiInstrument.

  14. herman
    June 15, 2011 at 11:16

    Trimakasih Pak buat penjelasannya..

    Dari penjelasan di atas, ada bbrp yg perlu saya tanyakan lagi.

    1. Apa kalau connection tapping point dari Transmiter ke nozzle tank di balik tdk di perbolehkan ? ( sisi High Transmitter ke Top side dan yang sisi Low Transmiiter ke sisi bottom side tank )

    2. Kalau range nya di balik dari -99inH20 (u/ 4 mA ) ~ -45inH20 (u/ 20 mA) menjadi 99 inH20 ~ 45 inH20 , berarti tdk akan ada pembacaan di transmiiter ketika mA nya sudah kurang dari 3.7 atau 3.8 mA.

    salam
    Herman

  15. TeknisiInstrument
    June 18, 2011 at 21:28

    Pak Herman,

    Maaf sebelumnya, kalau boleh saya tahu, untuk aplikasi apakah transmitter dibalik tersebut (sisi High Transmitter ke Top side dan yang sisi Low Transmitter ke sisi bottom side tank)? Sepertinya menarik sekali untuk dipelajari nich..? Terus terang saya jadi penasaran Pak, hehehehe….

    1. Boleh saja, hanya saja sepertinya 100% level pada tangki akan terbaca sebagai sinyal minimum oleh transmitter, dan kebalikannya. karena transmitter mengukur differential pressure (perbedaan tekanan) antara sisi high dan sisi low transmitter (PHigh-PLow), kecuali transmitter Bapak bisa dibuat reverse.

    2. Maksud Bapak LRV = 45 inH2O dan URV = 99 inH2O? Sepertinya transmitter akan menolak untuk diconfigure jika URV<LRV, terus terang saya belum pernah nyoba… Dan kalaupun transmitter bisa dikalibrasi dengan nilai URV<LRV, maka betul sekali pernyataan Bapak, transmitter tidak akan bisa mengeluarkan sinyal lebih kecil dari 3,7 atau 3,8 mA. Kecuali transmitter bapak bisa di-reverse.

    Salam,
    TeknisiInstrument

  16. herman
    June 20, 2011 at 11:11

    dear pak..
    Di plant yg sedang saya awasi, DP Level transmitter di pake untuk mengukur level di Daerator Tank. Sisi High Transmiiter di connectkan ke Nozzle yg paling atas dan sisi Low Transmitter. Mnrt requirement vendor tdk sperti itu configurasi nya.

    Nah, dgn intallasi seperti itu, kemungkinan kendala2 apa yg akan di hadapi ? apa untuk calibrasi akan mengalami kesulitan?

    Kalau transmitternya bisa di REVERSE, apa connection tapping point dari Transmiiter ke Nozzle Tank jg harus di balik, seperti yg saya jelaskan di atas?

    Mohon masukkannya pak.

    salam
    herman

  17. TeknisiInstrument
    June 20, 2011 at 17:17

    Dera Pak Herman,

    Saya belum menemukan transmitter yang memiliki reverse function, artinya kalau dp naik, maka output akan turun. Yang banyak saya temui adalah, transmitter yang jika dp-nya naik, maka output transmitter akan naik. Kata “reverse” di atas, saya hanya berandai-andai saja. :)

    Saya setuju dengan vendor yang Pak Herman sebutkan. Karena biasanya sisi high transmitter terhubung ke tapping point bawah, dan sisi low transmitter terhubung ke tapping point atas.

    Liquid yang mengisi sebuah tangki, akan menyebabkan tekanan hidrostatik pada setiap titik sepanjang level liquid tersebut. Artinya, titik paling bawah tangki memiliki tekanan hidrostatik paling besar. dibanding dengan titk sebelah atasnya, manakala tangki tersebut terisi oleh liquid.

    Anggap saja level dibatasi oleh dua buah tapping point., tapping point bawah dan atas. Jika level naik, maka tekanan pada tapping point bawah akan naik pula, sedangkan tekanan pada tapping point atas akan tetap. Sehingga, level berbanding lurus dengan perbedaan tekanan (dp) antara TPB (tapping point bawah) dan TPA (tapping point atas) [dp=TPB-TPA].

    dp-Transmitter (pada umumnya), memiliki fungsi direct, jika dp naik, maka output transmitter juga akan naik. Sehingga jika dirunut:

    level naik >>> dp naik >>> output transmitter naik

    Mengenai kendala yang bisa timbul dari instalasi di atas, adalah, kita tidak akan mendapat pembacaan level yang akurat, karena:
    Sebagaimana disebutkan di atas, transmitter membaca dp, jika sisi high transmitter dihubungkan dengan tapping point atas dan sisi low transmitter dihubungkan dengan tapping point bawah, maka yang terjadi adalah:

    level naik >>> dp turun >>> output transmitter turun.

    Menurut saya:
    1. Kalau ini instalasi baru, silakan periksa lagi hook-up drawing, apakah sudah sesuai?

    2. Jika hook-up drawing menyatakan bahwa sisi high transmitter dihubungkan dengan tapping point atas dan sisi high transmitter dihubungkan dengan tapping point bawah, silakan konfirmasi dengan engineering yang mengerjakan desain dan drawing.

    3. Bandingkan dengan proses yang sebenarnya dengan cara konfirmasi ke process engineer. apakah level naik itu akan menyebabkan dp naik pula?

    4. Jika memungkinkan, pasang pressure gauge dengan range yang memadai untuk mengukur tekanan hidrostatik pada tangki tersebut. Jika level naik, apakah tekanan hidrostatiknya naik pula?

    5. Jika pada step 4 di atas jawabannya adalah “ya”, maka menurut saya, instalasi low side ke tapping point bawah dan high side ke tapping point atas itu kurang tepat.

    Mohon maaf jika ada kekeliruan
    salam,
    TeknisiInstrument
    ==========================

    Disclaimer:
    Ini hanya pendapat pribadi, tanpa didukung oleh data yang lengkap dan ilmu yang memadai, silakan konsultasikan ke engineering Anda mengenai data yang tepat.

  18. herri
    June 22, 2011 at 08:51

    Ok..makasih banyak Pak
    Penjelasannya sangat membantu

    salam
    Herman

    • TeknisiInstrument
      June 22, 2011 at 11:14

      Pak Herman,
      Kembali kasih Pak, senang bisa berdiskusi.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  19. Ranggawuni
    September 24, 2011 at 06:21

    maaf ya, ikutan nimbrung
    Pemasangan DP Transmitter untuk mengukur level wet leg condition seperti yang dialami oleh bp Herman di atas (sisi high trans ke tapping point atas dan sisi low trans ke tapping point bawah) memang bisa dilakukan. Itu semua mungkin dengan memanfaatkan fitur reverse output pada transmitter. Pengalaman saya untuk transmitter merk Yamatake-Honeywell fungsi reverse output ini dapat diaktifkan dengan cara memasukan range atas pengukuran ke LRV dan range bawah pengukuran ke URV, pada saat ranging transmitter.

    • TeknisiInstrument
      September 25, 2011 at 11:14

      Pak Ranggawuni,
      Terima kasih atas tambahan informasinya, sangat membantu dalam menambah wawasan kita semua…
      Berarti pernyataan saya dalam comment #28 point 1 ada dukungan fakta,.. hehehe

      Salam sukses Pak,
      TeknisiInstrument

  20. artanadi
    December 6, 2011 at 13:43

    Bagus sekali blogx Pak,ada yg mau saya tanyakan Pak tolong dibantu Pak,kenapa pada pengukuran steam menggunakan dp transmitter? Terima kasih atas bantuan dan informasinya

    • TeknisiInstrument
      December 6, 2011 at 15:56

      Pak Artanadi,
      Terima kasih. Maksudnya pengukuran level atau flow Pak?

      Salam,
      TeknisiInstrument

  21. setia hs
    February 2, 2012 at 17:40

    salam kenal kang ade,

    kang kalau menentukan URV & LRV pada pengukuran tanki silindris posisi horizontal (posisi tidur) bagaimana caranya?

    trims..

    • TeknisiInstrument
      February 2, 2012 at 22:45

      Dear Kang Setia,
      Salam kenal kembali.

      DP Transmitter bekerja berdasarkan prinsip tekanan hidrostatik. jadi posisi vertikal maupun horizontal sama saja.

      Misalnya:
      Tangki silindris horizontal diameter (ID) 100 inci.
      Tangki berisi air (H2O) dengan sg 1
      Levelnya diukur dengan mengguanakan DP transmitter tanpa wet leg.
      hP = Tapping point high pressure side 10 inci dari dasar tangki.
      hL = Tapping point low pressure side 90 inci dari dasar tangki.
      hE = High pressure side transmitter sejajar dengan dasar tangki (10 inci ke bawah dari high pressure side).

      Maka:
      LRV = hE * SG = 10*1 = 10 inH2O
      URV = (hE+(hP-hL))*SG = (10+(90-10))*1 =(10+80)*1 = 90 inH2O
      Jadi, rentang ukur dpTx tersebut adalah 0 s/d 80 inci

      Jika transmitter menggunakan wet leg atau dengan remote seal, silakan lihat tulisan sebelumnya di sini: http://teknisiinstrument.wordpress.com/2011/03/27/mengkalibrasi-level-transmitter-sistem-dua-seal-bagian-4-tamat-elevated-zero/

      Salam,
      TeknisiInstrument

      • TeknisiInstrument
        February 2, 2012 at 22:54

        Tambahan:

        Kecuali di dalam DCS atau PLC atau HMI nilai level linear (0-80 inci) = 0-100% = 4-20mA dikonversi menjadi volume, maka hitungan konversi di dalam program DCS/PLC/HMI untuk mendapat volume sudah tidak linear lagi, mengingat posisi tangki yang horizontal. Maksudnya, satu inci tidak sama dengan sekian galon.

        Salam,
        TeknisiInstrument

  22. kardex
    April 4, 2012 at 08:28

    Ass,
    Bagaimana cara menentukan LRV dan URV pada flow transmitter baru ? dan apakah itu sudah menjadi satu set dg orifice nya ? hal ini saya akan pasang pada pipa baru dg diameter 3″ , press 20 bar.
    Yg saya tanyakan bagaimana cara membuat min range dan max range untuk flow transmitter tsb ?

    Terima kasih
    Sukardi PJbservices

    • TeknisiInstrument
      April 4, 2012 at 16:29

      Wa alaikum salam wrwb.
      Salam kenal Pak Sukardi.

      Biasanya, jika saat purchasing disebutkan bahwa transmitter harud dikalibrasi dengan nilai tertentu, maka manufacturer akan mengkalibrasi sesuai spek saat pembelian.
      Jika Differential Pressure Transmitter akan diaplikasikan untuk mengukur flow, biasanya tidak perlu satu paket, yang penting, pressure drop saat max flow masih di dalam rentang input range dari transmitter tersebut.

      Misalnya, jika pressure drop (delta-P) pada orifice saat max flow adalah 200 inH2O, maka transmitter bisa dikalibrasi 0-200 inH2O, tentunya transmitter memiliki rentang input yang lebih dari 200 inH2O.

      Pertanyaan sejenis pernah muncul di blog ini, mungkin jawabannya ada hubungannya dengan pertanyaan pak Sukardi, bisa diikuti link berikut:
      http://teknisiinstrument.wordpress.com/2009/02/04/kalibrasi-comotan-tulisan-kang-ruhe/#comment-565

      Salam,
      TeknisiInstrument

  23. October 15, 2012 at 15:09

    Salam kenal kang,
    Diskusi ini asyik sekali saya bacanya, responya bagus nh keep shared :D

    BTW kang ada yang saya tanyakan,
    1. output dari orifice itu berupa signal ap ya analog apa digital?
    2. Saya ada kasus yang masih belum kepikiran, output dari flowmeter orifice di split current (di bagi menjadi dua dengan arus output yang sama besar) dan masing2 terhubung ke flow komputer,, masalahnya nilai yg di tampilkan ada perbedaan ttp tdak signifikan bedanya,, jdnya ko bs beda padahal spek flow komputernya sama..arus dari split current pun sama,, barang kali ada penjelasan knpa bsa terjadi demikian,, hatur nuhun kang,,,

    • TeknisiInstrument
      October 15, 2012 at 16:57

      Kang Dede,
      Salam kenal kembali.
      1. Orifice sebagai sensing element, menghasilkan pressure drop (perbedaan tekanan) yang sebanding (walaupun tidak berbanding lurus) dengan flow yang mengalir. Perbedaan tekanan tersebut diukur dengan sebuah differential pressure trenansmitter, Untuk kemudian dilanjutkan ke controller atau ke flow computer, tergantung aplikasi.

      2. Asumsi saya: dua buah flow computer menerima input dari sebuah differential pressure transmitter dengan sensing element orifice plate, melalui sebuah signal splitter (equal).
      Flow computer termasuk peralatan digital, yang menerima input analog (4-20mA). Di dalam flow computer, sinyal 4-20mA tersebut (biasanya) diubah menjadi tegangan (1-5V) untuk kemudian diproses oleh Analog to Digital Converter (ADC). Untuk selanjutnya diolah processor dengan algoritma khusus, dan parameter tambahan lainnya, sehingga menghasilkan bacaan (readout) berupa flow (volume per waktu) dan besaran lainnya.
      Setiap pemrosesan sinyal (analog/digital) memerlukan waktu tertentu (sampling rate). Kemudian setiap komponen pada flow computer memiliki akurasi, linearity, repeatability dan karakteristik instrument lainnya. Dimana faktor2 tersebut bisa menghasilkan perbedaan bacaan flow (silakan baca spesifikasnya, munggin di sana ada data “accuracy=x.xx%)

      Jadi, walapun ada dua buah flow computer yang identik, menurut saya sangat susah untuk mendapatkan bacaan yang sama sampai beberapa desimal di belakang koma. Jika perbedaannya masih di sekitar nilai akurasinya, menurut saya ok ok saja..

      Salam,
      TeknisiInstrument

  24. dhika
    January 23, 2013 at 12:05

    salam kenal kang ..

    kang mau nanya nih kenapa kalo proses air demin ga bisa memakai flow transmitter yang sensornya magnetik ….

    andhika
    kp35

    • January 27, 2013 at 15:31

      Kang Andika,
      Kalau saya tidak salah ingat, karena magnetic flowmeter bekerja berdasarkan medan elektromagnetik, dan liquid yang diukur harus memiliki konduktivitas tertentu. Adapun air demin, biasanya konduktivitasnya akan berubah dari air biasa (biasanya konduktivitasnya rendah), sehingga mungkin konduktivitasnya di bawah syarat yang diperlukan oleh magnetic flowmeter.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  25. nur
    January 30, 2013 at 09:23

    Dear kang Ade

    Tanya tentang Level transmitter
    Di tempat sy nguli nih kang, pake transmitter 2051DP tanpa seal, aplikasinya pada drum Boiler dengan tekanan kerja 3,5 Mpa, kemudian untuk rentang ukurnya adalah 600mm, tapi transmitternya berlokasi jauh di bawah Drum dengan jarak 6 meter. Pertanyaan Saya :
    1. Bagaimana menentukan range dari transmitter ini?
    2. Pada saat zero trim, apakah harus dengan kondisi aktual ( terkoneksi ke drum dalam kondisi kosongan) ?

    Salam
    Nur

    • March 2, 2013 at 23:46

      Kang Nur,
      Kalau boleh tahu, berapa jarak antara tapping point atas dan tapping point bawah, ke titik manakah low press. side dihubungkan?

      Kalau mungkin ada, lebih bagus kalau ada gambar sketsanya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  26. chepin
    March 2, 2013 at 10:54

    Mengapa pengukuran Flow harus mengunakan Square Root

    • March 2, 2013 at 23:28

      Pak Chepin,
      Karena flow yang dihitung/dikalkulasi merupakan fungsi square root dari perbedaan tekanan antara upstream dan downstream sensing element, misalnya orifice.
      formulanya:
      Q=c*sqrt(2ΔP/ρ)
      Q = volumetric floweate
      c = konstanta
      ΔP= differential pressure antara upstream dan downstream sensing element
      ρ = density fluida

      Lebih jelasnya bisa dilihat di link berikut:
      http://www.efunda.com/formulae/fluids/calc_orifice_flowmeter.cfm

      Salam,
      TeknisiInstrument

  27. Rizki
    October 3, 2013 at 16:50

    terimakasih atas postingan andda
    semoga memberikan manfaat bagi orang” didunia dddan di akhirat
    semoga amal ibadah anda untuk memposting ilmu anda disini ditrima oleh ALLAH SWT
    Aamiin

  1. No trackbacks yet.

Silakan tulis komentar Anda... Terima kasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 425 other followers

%d bloggers like this: