Archive

Archive for the ‘Control System’ Category

Mengapa 4-20mA?

April 13, 2014 2 comments

Sebenarnya TeknisiInstrument-pun memiliki pertanyaan yang sama. Itu adalah pertanyaan klasik, yang TeknisiInstrument-pun belum pernah mendapatkan jawaban yang YA/TIDAK, dan jawaban yang selalu didapat tidak terlalu definitif, selalu memiliki alasan sendiri. Tapi akan dicoba mengutarakan apa yang pernah TeknisiInstrument dapat dari hasil mencari.

Image

Mengapa 4-20mA?
Pertama, karena ISA, melalui ISA-50.00.01-1975 (R2012) mengenai “Compatibility of Analog Signals for Electronic Industrial Process Instruments“, men-standard-kan sinyal untuk arus listrik sebesar 4-20mA. Pertanyaannya adalah, mengapa ISA memilih 4-20mA, tidak 5-21mA, atau 5-20mA, atau 5-25mA? Terdapat beberapa versi yang memberikan alasan dibalik itu semua, diantaranya:

  1. Untuk alasan safety, arus 20mA tidak akan menimbulkan percikan yang menghasilkan energi yang cukup untuk membakar sesuatu.
  2. Dipilih 4mA untuk zero-nya, hal ini menganut sistem live-zero, atau non-zero lower limit. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi apakah peralatan instrument failure atau tidak, jika sinyal yang diterima oleh receiver (misalnya dari transmitter ke controller/DCS) lebih kecil dari 4mA, maka controller/DCS akan mengidentifikasi bahwa transmitter tersebut failure, atau tidak terkalibrasi dengan baik, atau bahkan transmitternya rusak. Untuk beberapa transmitter, biasanya meng-clamp sinyal di 3,8mA jika transmitter rusak.
  3. Dari nomor 1 dan 2 di atas, kita mendapatkan rentang sinyal 4-20mA (span 16mA), sehingga kita (controller/DCS) bisa mendefinisikan, jika sinyal yang diterima keluar dari rentang tersebut, maka transmitter-nya rusak atau bermasalah.
  4. Dulu (konon) sinyal yang digunakan adalah 10-50mA, hal ini dikarenakan pada waktu itu, komponen utama dari peralatan elektronik untuk instrument kebanyakan menggunakan media elektromagnetik, dengan menggunakan koil. (mungkin ingat P/I converter jaman dulu) arus 50mA diperlukan agar komponen elektromagnetik memiliki eksitasi yang cukup untuk bekerja. Tapi sejalan dengan perkembangan elektronika, yang pada jaman ini sudah hampir menggunakan komponen elektronika sepenuhnya, sehingga tidak memerlukan arus sebanyak itu (50mA) agar komponen elektronika bisa bekerja dengan baik. Kebanyakan peralatan instrumentasi elektronik menggunakan tegangan TTL (1-5Vdc) sebagai tegangan yang diolah sebagai sinyal, dan kebanyakan memiliki impedansi antara 250-680ohm, sehingga sinyal 4-20mA cukup untuk bisa ditransmisikan melalui media kabel dengan impedansi total (plus impedansi transmitter) sebesar 250-680 ohm.
  5. Ada pendapat yang mengatakan bahwa 20mA merupakan sinyal yang dipakai pada mesin tik jarak jauh (teletypewriter) jaman dulu (ada juga yang menggunakan 60-an mA), teknologi teletypewriter ini juga digunakan sebagai teknologi remote telemetry (pengukuran jarak jauh) pada jamannya, yang kemudian diadopsi sebagai sinyal standard dunia industri (instrumentasi).
  6. dan (mungkin) masih banyak alasan lain, silakan gali google :)

Ada yang berpendapat mengenai 4-20mA, pendapatnya simple, seperti ini: “Take it as a given” hehehe… Menurut TeknisiInstrument, ada benarnya juga, karena tidak ada yang bisa memberikan alasan yang pasti hitam/putih. Jadi ya… terima saja hehehe…

Itu hanya pendapat yang berupa rangkuman dari hasil pencarian informasi tersebut beberapa tahun yang lalu, sangat mungkin salah, dan bisa saja akan menjadi bahan perdebatan, yang mudah-mudahan perdebatan yang membawa manfaat, aamiin.

Menyiasati Kegagalan Image Bakup pada komputer TT4000 Solar Taurus 70 Generator Set

August 1, 2013 6 comments

Pernahkan Anda mengalami komputer crash dan tidak bisa booting sebagaimana mestinya, kalaupun bisa booting, beberapa program corrupt? Jika Anda mengalami hal tersebut dan kita memiliki image backup (atau kloningan harddisk), kita bisa langsung me-restore-nya dengan mudah, dan komputerpun berjalan kembali. Mungkin hanya kehilangan beberapa state dari Windows dan program aplikasi. Tapi jika kita memiliki backup untuk windows state, dan data log dari program HMI, maka kita bisa me-restore-nya kembali setelah komputer kita restore dengan image backup terakhir.

Umumnya image backup dilakukan lebih jarang dibanding dengan backup datalog. Misalnya backup untuk data log dilakukan bulanan, sedangkan image backup dilakukan 6 bulanan atau bahkan tahunan, tergantung regulasi yang diberlakukan di perusahaan masing-masing.

TeknisiInstrument pernah mengalami masalah saat akan melakukan image backup komputer HMI pada TT4000 Solar Taurus 70 Generator Set. Software yang digunakan untuk melakukan image backup saat itu adalah Acronis True Image Home 2010 PC Backup & Recovery (TIH2010). Saat image backup berlangsung, TIH2010 tidak bisa mendeteksi resolusi monitor sehingga backup tidak bisa dilakukan. Hal ini terjadi mungkin karena PC yang digunakan merupakan customized PC yang digunakan untuk industrial PC, yang mungkin driver vga-nya tidak umum sehingga TIH2010 tidak bisa mendeteksi vga card-nya.

Apa mau dikata, TeknisiInstrument mencoba cara lain dengan menggunakan PC lain sebagai host-nya untuk menjalankan TIH2010 dan dengan demikian TeknisiIntrument harus melepas harddisk PC yang terpasang pada panel TT4000 tersebut.

Berikut langkah-langkah yang pernah dilakukan oleh TeknsiInstrument:

Identifikasi dulu PC yang mau kita image backup.

Setelah diketahui bahwa harddisk memiliki konektor IDE, maka siapkan USB to IDE adapter agar komputer lain bisa mendeteksi harddisk tersebut sebagai external harddisk.

Agar proses monitoring dan control dari TT4000 tidak terganggu, maka perlu dipasang HMI backup yang bisa menggantikan fungsi HMI utama yang akan kita image backup. Maka TeknisiInstrument memasang laptop sebagai HMI pengganti, yang di dalamnya sudah terpasang dan running aplikasi TT4000.

Setelah laptop sebagai HMI pengganti berfungsi dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah mematikan komputer HMI utama dan melepaskan harddisk untuk dipasang pada komputer lain sebagai hardisk external.

Setelah harddisk terlepas, kemudian langkah selanjutnya adalah memasangnya pada adapter USB-IDE.

Kemudian memasang harddisk tersebut sebagai harddisk external, dan ditancapkan pada laptop lain, tapi sayang sekali, TIH2010 tidak bisa mendeteksi harddisk tersebut, selidik punya selidik, ternyata power dari USB port laptop tidak cukup kuat untuk menghidupi harddisk yang kita jadikan harddisk external tadi. Sehingga perlu dicari cara agar harddisk mendapat catu daya yang cukup agar bisa dideteksi oleh sistem.

TeknisiInstrument selanjutnya menggunakan PC desktop, kebetulan ada maintenance PC yang biasa dipakai untuk troubleshooting.

Harddisk-pun sekarang mendapat catu daya dari power supply PC dekstop yang memadai, sehingga TIH2010 bisa mendeteksi harddisk saat PC Desktop booting dengan TIH2010 tersebut. Sehingga image backup-pun bisa dilakukan.

Alhamdulillah, imaga backup bisa dilakukan.

=================================

Disclaimer and Warning: Isi dari artikel ini bukan merupakan panduan melakukan backup, tapi hanya langkah yang pernah dilakukan oleh TeknisiInstrument untuk mensiasati masalah yang dihadapi. TeknisiInstrument tidak bertanggung jawab jika ada perkara apapun yang mungkin timbul baik secara langsung maupun tidak langsung dari tulisan ini. Pada artikel ini terdapat foto fasilitas/alat/equipment sebuah perusahaan, mohon untuk tidak mengunduh/men-download foto-foto tersebut untuk tujuan apapun tanpa seijin dari TeknisiInstrument. Adapun copy-paste isi arikel ini, dipersilakan jika memang diperlukan, tapi mohon tidak mengunduh foto-fotonya. Metoda backup ini harus dilengkapi dengan policy resmi yang dapat dipertanggung jawabkan. Karena aktivitas image backup dapat mengarah ke penggandaan yang mungkin bisa melanggar hak cipta. Sekali lagi, tulisan ini bukan merupakan panduan, saran dan istilah lain yang mengarah ke maksud itu. Di-share di blog ini hanya untuk knowledge-sharing murni secara teknis. TeknisiInstrument tidak bertanggung jawab jika ada akibat langsung dan/atau tidak langsung dari tulisan ini.

Instrumentasi: Pemahaman awam TeknisiInstrument

January 1, 2012 16 comments

Tulisan ini dipicu oleh pertanyaan dari salah seorang pembaca teknisiinstrument.wordpress.com.  

Pertnyaan:

kak saya ingin bertanya tentang ini konsep, bahan, komponen sistem instrumentasi industri untuk tugas sekolah saya. terima kasih sebelumya……

Penegasan Pertanyaan:

maaf kak nimbrung :D saya teman sekelasnya Dion kak , maksudnya dia itu dia bertanya ttg :
- Konsep dari Sistem Instrumentasi Industri
- Bahan-bahan Sistem Instrumentasi Industri
- Komponen-komponen Sistem Instrumentasi Industri

mohon dibantu juga kak , tugas sekolah nih >_<

Jujur saja, tidak mudah menjawab tiga pertanyaan di atas, karena itu berarti kita harus bercerita mulai dari pengertian sampai aplikasi instrumentasi. Tapi TeknisiInstrument akan mencoba untuk sedikit mengupas, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, mungkin bukan “mengupas” kata yang tepat mengenai tulisan ini, karena hanya menyerempet kulitnya saja mengenai instrumentasi.

Istilah: Khusus pada tulisan ini, kata “proses” jika dipakai pada kalimat tertentu memiliki arti: Semua langkah-langkah, cara, kegiatan, untuk mengolah bahan produksi yang masuk ke fasilitas produksi (plant/pabrik) menjadi bahan jadi atau setengah jadi yang merupakan hasil produksi dari plant/pabrik tersebut.

Jawaban atas peretanyaan pertama: Konsep Sistem Instrumentasi Industri
Secara umum, instrumentasi itu bertujuan agar semua keinginan process designer terpenuhi secara proses, artinya produk dari sebuah pabrik/plant yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan dan selesai dalam proses yang aman, baik bagi manusia, peralatan maupun lingkungan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan peralatan produksi sesuai dengan kondisi operasi proses yang telah dirancang dan diinginkan, agar tidak melebihi batas parameter proses yang diijinkan sehingga proses berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

Untuk mengendalikan peralatan produksi (atau biasa disebut juga sebagai process equipment), maka diperlukan alat-alat instrumentasi yang mampu mengukur dan mengendalikan parameter-parameter proses agar berada pada nilai yang dikehendaki (setpoint). Parameter proses dimaksud misalnya tekanan (pressure), laju alir fluida (flow), ketinggian fluida/solid (level), temperatur (temperature), derajat keasaman (pH),  kelembaban (humidity), kecepatan putar mesin (speed) dan lain-lain.

 Secara umum, instrumentasi meliputi dua kegiatan, yaitu mengukur dan mengendalikan (measures and controls). Pada “mengendalikan” ada step pembandingan (comparison) dengan nilai yang dikehendaki (setpoint), pengambilan keputusan berdasarkan formulasi tertentu (judgement) serta perbaikan (correction) terhadap penyimpangan (error). Jadi instrumentasi merupakan siklus dari empat tahap berikut:

  1. Measeurement (pengukuran)
  2. Comparison (pembandingan dengan setpoint)
  3. Judgement (pengambilan keputusan atas hasil pemandingan)
  4. Correction (perbaikan penyimpangan)

Jika kita belum pernah terjun ke dunia industri, atau hanya sekedar melihatnya saja, memang agak sedikit sulit membayangkan bagaimana sebenarnya peran instrumentasi di dunia industri. Untuk itu, TeknisiInstrument akan mengambil contoh yang sederhana pada kehidupan sehari-hari.

Alat setrika (gampangnya: setrikaan), merupakan alat rumah tangga yang lumayan bisa menggambarkan proses industri. Kita menginginkan agar setrikaan bisa menghasilkan panas pada termperatur tertentu. Di dalam setrikaan terdapat sebuah elemen pemanas, sebuah bimetal yang terintegrasi dengan switch pemutus arus, sebuah knob pengatur temperatur yang mengatur pada temperatur berapa switch akan memutuskan arus listrik ke elemen pemanas.

  1. Elemen pemanas merupakan equipment yang akan dikendalikan, agar panasnya sesuai dengan yang diinginkan.
  2. Bimetal merupakan sensor temperatur yang mengukur temperatur bantalan setrikaan >> Measurement
  3. Integrasi antara bimetal dan knob pengatur temperatur merupakan controller atau pengendali >> Comparison dan Judgement
  4. Switch yang terintegrasi dengan bimetal dan knob merupakan aktuator yang memutuskan >> Correction

Jika temperatur terlalu panas, maka bimetal akan merasakan kenaikan temperatur tersebut dan membandingkannya dengan setelan pada knob, kemudian jika terlalu panas, maka switch akan memutuskan arus ke elemen pemanas. Sebaliknya, jika temperatur turun, maka bimetal akan merasakannya dan memandingkannya dengan setelan knob, jika terlalu dingin maka switch akan kembali terhubung dan memberikan arus ke elemen pamanas sehingga setrikaan menjadi panas kembali.

Kurang lebih, begitulah konsep instrumentasi menurut pemahaman awam TeknisiInstrument.

Jawaban atas peretanyaan kedua: Bahan-Bahan Sistem Instrumentasi Industri

Bahan, asumsi TeknisiInstrument adalah bahan baku yang diolah oleh pabrik atau plant. Bahan tersebut memiliki parameter yang ingin dikendalikan, parameternya secara umum dibagi dua:

  1. Besaran Fisik (pressure, level, flow, temperatur, speed dll)
  2. Besaran Kimia (pH, dll)

 Jawaban atas pertanyaan ketiga: Komponen-komponen Sistem Instrumentasi Industri

Komponen dimaksud  bisa meliputi:

  1. sensing element (misalnya RTD, thermocouple, plat orifis, load cell, potensiometer, MPU dll)
  2. Transmitter (mengirimkan sinyal standar hasil dari sensing element kepada receiver (bisa berupa controller, indicator, data logger atuapun recorder)
  3. Controller (mengolah sinyal dari transmitter untuk menentukan nilai koreksi)
  4. Actuator (merupakan final control element yang bekerja berdasarkan perintah dari controller)
  5. Recorder (merupakan perekam sinyal, yang membandingkannya terhadap perjalanan waktu)
  6. dll.

Mungkin itu saja dulu tulisan kali ini.

 

Disclaimer:

Tulisan ini merupakan tulisan versi TeknisiInstrument yang mungkin jauh dari kaidah keteknikan. Ini hanya jawaban awam dari TeknisiInstrument. Seperti biasa, “TeknisiInstrument” merupakan subjek tunggal penulis, tidak mengatas namakan “Teknisi Instrument” yang merupakan subjek jamak orang-orang yang bekerja sebagai teknisi instrument. Jadi kekeliruan pada tulisan ini adalah kekeliruan TeknisiInstrument sebagai penulis. Ada perbedaan penulisan pada blog ini, antara “TeknisiInstrument” yang merupakan nickname dari pemilik blog, dan “Teknisi Instrument” sebagai nama salah satu profesi.

Switch, fail-safe atau tidak?

August 8, 2011 4 comments

Sudah lama tidak menulis, TeknisiInstrument akan mencoba meneruskan topik yang sebelumnya belum berlanjut. Oh ya… selamat menjalankan ibadah shaum bagi yang sedang menjalankannya, semoga segala amal ibadah kita menjadi sebab turunnya ridlo Allah. Aamiin.

Berikut adalah cuplikan permasalahan pada  topik sebelumnya :

Bagaimana seandainya koneksi kabel salah satu switch tersebut terputus karena satu dan lain hal? Apakah level indikator masih bisa berfungsi? Baik, untuk lebih memudahkan pemisalan tadi, perhatikan gambar di bawah ini:

Kabel LAL terputus

Kabel LAL terputus

Misalnya kabel sumber tegangan yang masuk ke LSL (pada terminal NC) terputus (seperti pada gambar yang dilingkari biru), dan terjadi low level. Apakah LAL masih bisa menyala untuk menandakan bahwa sedang terjadi low level?

Secara logic, wiring di atas sudah memenuhi fungsinya, yaitu jika level normal, maka lampu indikator akan padam, dan sebaliknya jika terjadi abnormal (low level atau high level) maka masing-masing lampu indikator akan menyala yang mengindikasikan bahwa level sedang tidak normal.

Pada contoh gambar di atas, jika level dalam keadaan normal, maka lampu indikator akan padam, kemudian karena satu dan lain hal, tiba-tiba salah satu kabelnya terputus, kemudian terjadi low level. Apa yang akan terjadi? Ya… indikator akan tetap padam, dan operator tidak akan mengetahui jika level di dalam tangki sedang mengalami keadaan low level. Inilah yang dimaksud dengan tidak fail-safe. Jika sistem mengalami kegagalan (fail), maka sistem tersebut tidak ada dalam keadaan yang aman (safe).

Silakan rubah konfigurasi switch dengan menggunakan NO (normally energize saat level normal). Dan rubah logic untuk lampunya: Jika level normal, lampu menyala, jika low level, lampu padam. Atau dengan bantuan sebuah relay, logic bisa di-invert sehingga logic awal bisa tercapai: Jika level normal, maka lampu indikator akan padam, dan jika low level, lampu indikator akan menyala. Setelah diubah, silakan bandingkan kondisinya, jika terjadi putusnya salah satu kabel LSL. Jika berkenan, tulis dalam “comment” hasil analisa Anda.

Dengan memahami ini, insya Allah kita akan memahami konsep fail-safe untuk konteks switch ini.

Pada sistem yang sudah kompleks dengan safety standard yang tinggi, wiring untuk switch tidak lagi sesederhana contoh di atas. Terlebih yang sudah melibatkan PLC/DCS sebagai logic solver-nya. Bukan hanya kondisi prosesnya saja (dalam contoh ini adalah level) yang dimonitor/dideteksi, tapi keadaan wiringnyapun dideteksi, apakah terjadi open-circuit atau apakah terjadi short circuit pada wiringnya. Sehingga sistem keseluruhan menjadi jauh lebih reliable.

Dan kebanyakan, konfigurasi yang banyak dipakai adalah NO, adapun “main-main” logicnya dilakukan di dalam logic solver (PLC atau DCS)

Switch, Normally Energize atau Normally De-energize


Seperti pada posting sebelumnya, bahwa saklar NO bisa saja beraksi sebagai NE atau ND, begitu pula, saklar NC, bisa saja beraksi NE atapun ND. Tergantung dari aplikasinya.

Mari kita ambil contoh, aplikasi level switch untuk mendeteksi low level (LSL=Level Switch Low) dan high level (LSH=Level Switch High). Diambil sampel level agar memudahkan dalam visualisasi, karena kita dapat dengan memudahkan “level” dibanding dengan “pressure”, karena secara visual langsung, kita tidak pernah bisa melihat pressure, hanya percaya kepada pressure gauge atau pressure indicator.

Misalnya kita akan menggunakan sebuah level switch untuk mendeteksi low level (LSL) dan sebuah level switch lainnya untuk mendeteksi high level (LSH), seperti gambar di bawah ini. 

Level Switch High dan Low

Level Switch High dan Low

Misalnya kedua switch tersebut dihubungkan dengan lampu indikator untuk mengindikasikan masing-masing low level dan high level, misalnya, jika level normal maka lampu indikator harus padam, dan jika low atau high level maka masing-masing lampu indikator harus menyala.

Pertanyaannya adalah, kontak mana yang harus digunakan untuk LSL, apakah NO atau NC. Begitu pula untuk LSH, apakah NO atau NC?

 OK, anggap saja kita to the point, anggap saja kita hanya berfokus pada logikanya, bahwa, jika low level, indikator harus menyala, jika high level, lampu indikator juga harus menyala. Maka, tanpa pertimbangan apapun, hanya pertimbangan logic saja, kurang lebih wiring diagramnya akan seperti berikut: 

Wiring diagram dan level normal

Wiring diagram dan level normal

 

Mengacu pada gambar di atas, level sedang dalam keadaan normal, LSL menggunakan kontak C-NC, dan saat normal tersebut, kontak menjadi deenergize, sedangkan LSH menggunakan kontak C-NO, dan saat normal, kontak menjadi deenergize juga.

Saat normal, arus listrik tidak masuk kepada lampu indikator LAL, karena terputus oleh LSL yang sedang deenergize. Begitupun dengan LAH, arus listrik tidak masuk kepada lampu indikator LAH karena terputus oleh LSH, sehingga kedua indikator padam, menandakan level dalam keadaan normal.

Bagaimana jika terjadi low level? Perhatikan gambar di bawah ini:

Terjadi low level alarm

Terjadi low level alarm

 

Abaikan LAH, karena tidak mengalami perubahan. Sekarang kita amati LAL. Karena level low, LSL yang menggunakan kontak C-NC, yang tadinya deenergize menjadi energize sehingga arus listrik masuk ke lampu indikator LAL, dan lampu indikatorpun menyala menandakan bahwa sedang terjadi low level.

Bagaimana pula jika terjadi high level? Perhatikan gambar di bawah ini:

Terjadi level alarm high

Terjadi level alarm high

 

Abaikan LAL, karena tidak mengalami perubahan. Sekarang kita amati LAH. Karena level high, LSH yang menggunakan kontak C-NO, yang tadinya deenergize menjadi energize sehingga arus listrik masuk ke lampu indikator LAL, dan lampu indikatorpun menyala menandakan bahwa sedang terjadi low level.

Persyaratan logic seperti diungkapkan di atas, bahwa:

“jika level normal maka lampu indikator harus padam, dan jika low atau high level maka masing-masing lampu indikator harus menyala.”

Apakah pemilihan NO/NC pada wiring diagram yang kita buat tadi bisa memenuhi persyaratan logic tersebut? Silakan jawab….

Bagaimana seandainya koneksi kabel salah satu switch tersebut terputus karena satu dan lain hal? Apakah level indikator masih bisa berfungsi? Baik, untuk lebih memudahkan pemisalan tadi, perhatikan gambar di bawah ini:

Kabel LAL terputus

Kabel LAL terputus

 

Misalnya kabel sumber tegangan yang masuk ke LSL (pada terminal NC) terputus (seperti pada gambar yang dilingkari biru), dan terjadi low level. Apakah LAL masih bisa menyala untuk menandakan bahwa sedang terjadi low level?

Tunggu jawabannya pada posting selanjutnya.

Switch, Normally Open atau Normally Closed


Tulisan ini dilatarbelkangi oleh obrolan dengan Kang Ruhe, yang termaktub dalam komentar salah satu posting do blog ini.

Switch atau saklar, merupakan salah satu sensor di dalam dunia instrumentasi yang masih banyak digunakan, bahkan dulu (katanya), sebelum sensor analog (transmitter, transducer dll) masih tergolong (sangat) mahal, alarm/shutdown system masih banyak menggunakan. Bahkan sekarangpun, untuk mengendalikan proses yang relatif sederhana, untuk menekan biaya konstruksi, switch atau saklar masih banyak digunakan.

Switch dimaksud diantaranya adalah:

  • Pressure switch
  • Level switch
  • Temperature switch
  • Flow switch
  • Vibration switch
  • Limi switch
  • Dll.

Pertanyaannya adalah, pada alarm dan shutdown system, apakah harus dipasang NO (normally open) atau NC (normally closed)?

Dari pertanyaan itulah, TeknisiInstrument akan mencoba sedikit mengulasnya.

NO dan NC adalah penamaan kondisi atau keadaan switch saat switch belum dipasang atau belum in-service atau belum ada aksi dari parameter yang dideteksinya.

Selain NO dan NC ada istilah lain untuk dunia per-switch-an, NE (Normally Energize) dan ND (Normally De-energize) adalah istilah lain tersebut. NE adalah keadaan switch yang close ketika parameter yang dideteksinya sedang dalam keadaan normal, switch akan open jika parameter yang dideteksinya menjadi tidak normal (pressure low atau high, sebagai contohnya). Sedangkan ND adalah keadaan switch yang open ketika parameter yang dideteksinya sedang dalam keadaan normal, switch akan close jika parameter yang dideteksinya menjadi tidak normal (pressure low atau high, sebagai contohnya).

Perhatikan gambar berikut:

Switch, NO NC

 

Pada gambar 1, sebuah LS (level switch) dipasang untuk mendeteksi ketinggian cairan yang berada di dalam sebuah tangki. LS tersebut misalnya dipakai untuk mendeteksi level high (LSH=Level Switch High).

Gambar 1a menunjukkan level dalam keadaan normal atau dalam keadaan tidak high. Terminal Common (C) akan terhubung ke terminal NC, atau C-NC dalam keadaan energize, dan C-NO dalam keadaan deenergize.

Gambar 1b menunjukkan level dalam keadaan tidak normal atau dalam keadaan high. Terminal Common (C) akan terhubung ke terminal NO, atau C-NO dalam keadaan energize, dan C-NC dalam keadaan deenergize.

Itulah pengertian NO, NC, ND dan NE.

Itu saja dulu tulisan kali ini, ke depannya akan berlanjut kepada tulisan mengenai implementasi switch pada alarm/shutdown system serta pemilihan NO atau NC.

Berlanjut

Infrared dan Ultraviolet Gas Detector

October 18, 2010 8 comments

Sebetulnya posting ini merupakan comotan diskusi dengan seorang teman di page “about“, menarik juga sepertinya kalau dibuat posting.

Ini dia cuplikan diskusinya:

Pertanyaan:

Sampurasun, Kang boleh ikut bertanya, bahasannya agak melenceng, tentang Anti Fire equipment, tapi masih diwilayah toekang instrument. Saya pernah ikut instalasi UV/IR/UVIR punyaannya Detronics, tapi kebetulan biasanya masang yang masih perawan baru keluar dari pabrik, jadi belum pernah nemuin masalah atau kendala yang aneh-aneh. Pertaanya, masalah atau kendala apa saja yang sering muncul dilapangan pada sensor UV/IR/UVIR dan atau sensor anti fire laiinnya? Mohon dijelaskan dari masalah sepele sampe yang paling bikin sebel toekang maintenance, kalo bisa dibikin postingan bahasannya Kang, boleh ya?:maksa: hehehehe

Haturnuhun

 

Jawaban:

teknisiinstrument September 21st, 2010 REPLY:

Rampes… Wah… jadi isin ditaros ku master mah yeuh… hiks…

Anti Fire Equipment, kalo di tempat kerja saya panggilannya Fire and Gas System, karena merupakan kombinasi antara gas detector, flame detector, heat detector, smoke detector dan terintegrasi ke fire water, deluge system, dan fire suppression lainnya, seperti CO2 system. Point IR gas detector.

Yang sering sering timbul masalahnya adalah optik yang kotor, infrared lamp-nya yang mati, atau bahkan sensor IR-nya yang mati, tapi biasanya hanya satu indikator yang ditunjukkan: FAULTY. hehehe.. ya memang, menyedihkan, jadi kalo udah faulty, memang sepertinya harga mati untuk diGANTI dengan yang beru. Tapi seiring ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebelum memutuskan untuk mengganti, karena gas/flame detector itu harganya muahal sekualliii… (katanya).

Untuk IR gas detector: kalo dilengkapi dengan dust filter, silakan periksa dan bersihkan dust filternya secara rutin. Lakukan function test dan/atau Sensor calibration secara berkala. Open Path Gas Detector Kalo OPGD (Open Path Gas Detector) masalah yang sering terjadi selain bagian optiknya, ialah karena mis-alignment, atau cahaya IR dari transmitter tidak mengenai bagian receivernya. oleh karenanya biasanya indikasinya adalah “Beam Blocked”, obatnya biasanya dengan re-alignment dan re-calibration, setelah itu di-function test.

IR/Triple IR/UV/UVIR flame detector. Sebagaimana kita ketahui, mereka bekerja berdasarkan sinar Inframerah atau ultraviolet, sehingga pasti ada komponen optik di dalamnya, entah itu lensa, entah itu photosensor dll. kotoran biasanya jadi penyebab yang paling sering mereka faulty. beberapa manufacturer memiliki cairan khusus untuk membersihkan bagian optic dari flame detector. Tapi masalah yang peling menjengkelkan adalah kalau signal drift, karena kebanyakan flame detector tidak bisa “field calibration”, kalo diukur oleh mA meter, menunjukkan angka, dan sepertinya normal. Misalnya gini: Kalo flame detector normal, dan tidak “melihat” api, maka dia akan mengirim sinyal 4mA, dan controller menerjemahkannya “NORMAL”, Kalau flame detector “melihat” api (bisa disimulasikan dengan flame simiulator), dia akan mengirimkan sinyal 18mA (misal), dan controller menerjemahkannya sebagai “FIRE”, kalau flame detector mengirim sinya di bawah 4mA atau di atas 20mA (ini hanya contoh) maka controller menerjemahkannya sebagai “detector faulty”. Nah.. bagian pusingnya ini: kalau kita simulasikan dengan fire simulator (berupa lampu yang memancarkan cahaya IR atau UV yang memiliki frequensi sama dengan frequensi UV/IR yang timbul pada api) flame detector mengirimkan sinyal 17.9999mA, sedangkan detector menerjemahkannya masih “NORMAL”, jadi, mau nggak mau harus ganti… Sok rada ngabatin pami ngagentos nu model kieu teh…

Tambahan: Pada beberapa detector, mungkin dilengkapi dengan menu “SOFT RESET” pada hand-held-nya, ini bisa kita lakukan kalau yang fisik tidak bisa menyelesaikan masalah, maka software (firmware)-nya kita reset, ada kalanya juga harus melakukan recycle power, dimatikan powernya kemudian hidupkan kembali… Oh ya.. tambahan (lagi), bisanya kalo peralatan safety seperti flame/gas detector, suka ada pemberitahuan “NO SERVICEABLE PART INSIDE”, boleh percaya boleh tidak… tapi kalau ingin taat hukum sertifikat, harus percaya.. hehehehehehe, kalau ingin berfikir sampai resistor-capacitor-transistor level… silakan saja tidak percaya… ya.. tergantung kebutuhan.. hehehe Semoga bisa menjawab, kalopun tidak kita cari lagi jawabannya sama-sama…

Salam, TeknisiInstrument

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 427 other followers

%d bloggers like this: